MERDEKA : Melawan Penjajah Dari Bangsa Sendiri

Avatar

- Redaksi

Senin, 17 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahren Nurdin Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik

Bahren Nurdin Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik

JURNALELITE.COM, OPINI,- Setiap 17 Agustus, kita kembali mengibarkan Merah Putih. Jalan-jalan dipenuhi umbul-umbul, perlombaan digelar, dan lagu-lagu kebangsaan berkumandang. Tahun ini, Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-81. Namun, di tengah gegap gempita itu, sebuah pertanyaan patut diajukan: benarkah kita telah sepenuhnya merdeka?

Secara politik, Indonesia memang telah lama terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Tidak ada lagi tentara asing yang menguasai negeri ini. Tidak ada lagi bendera penjajah yang berkibar di atas tanah air. Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang bebas dari kekuasaan bangsa asing. Penjajahan dapat berubah wajah. Ia tidak selalu datang dengan senjata, seragam militer, dan kapal perang. Hari ini, penjajahan bisa hadir dari dalam rumah kita sendiri. Bahkan pemimpin negeri ini sendiri!

Korupsi, misalnya, adalah salah satu bentuk penjajahan modern yang paling nyata. Dilakukan oleh elit bangsa. Ketika uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan justru dirampas oleh segelintir orang, sesungguhnya sedang terjadi perampasan hak rakyat. Koruptor mungkin tidak membawa senapan seperti tentara kolonial, tetapi akibat perbuatannya bisa menghancurkan masa depan bangsa. Tindakan para maling ini sesungguhnya lebih sadis dan tidak berperi kemanusiaan.

Demikian pula narkoba. Ia adalah bentuk penjajahan yang menyerang bukan wilayah, melainkan manusia. Jika penjajah masa lalu berusaha menguasai tanah dan sumber daya bangsa Indonesia, narkoba sedang berusaha menguasai kesadaran, merusak generasi, menghancurkan keluarga, dan memutus masa depan bangsa. Yang lebih menyedihkan, peredaran narkoba tidak mungkin berkembang tanpa keterlibatan penguasa negeri ini. Mereka yang dipercaya untuk memberantas malah menjadi cukong.

Dalam konteks lokal Jambi, refleksi kemerdekaan harus membawa kita pada keberanian untuk melihat persoalan di sekitar kita. Jambi adalah daerah yang kaya sumber daya alam, memiliki sejarah, budaya, dan masyarakat yang luar biasa. Tetapi kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Kita masih menyaksikan persoalan kemiskinan, kesenjangan, kerusakan lingkungan, konflik sumber daya, penyalahgunaan kekuasaan, hingga ancaman narkoba yang terus membayangi generasi muda.

Di sinilah makna kemerdekaan harus diuji. Apa arti merdeka jika rakyat masih kesulitan mendapatkan keadilan? Apa arti kemerdekaan jika kekayaan daerah hanya dinikmati oleh segelintir orang? Apa arti Merah Putih berkibar setiap Agustus jika pada saat yang sama ada anak-anak muda yang masa depannya dirampas oleh narkoba, dan uang rakyat justru dikorupsi oleh mereka yang seharusnya menjadi pelayan publik?

Saya bahkan berpandangan, siapa pun yang dengan sadar merampas hak rakyat, merusak generasi melalui narkoba, atau menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, patut disebut sebagai pengkhianat terhadap cita-cita kemerdekaan.

Mereka mungkin bukan penjajah asing, tetapi dampak yang ditimbulkan dapat menjadi bentuk penjajahan baru dari sesama anak bangsa. Karena itu, dalam konteks moral kebangsaan, pengkhianatan dari dalam sering kali terasa lebih menyakitkan daripada serangan dari luar.

Kemerdekaan ke-81 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara kita merayakannya. Jangan hanya merdeka secara seremonial, tetapi juga berjuang untuk merdeka dari korupsi, narkoba, ketidakadilan, keserakahan, dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Melawan penjajah dari bangsa sendiri, bahkan pemimpin sendiri!

Kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai status sejarah. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan sebagai tanggung jawab moral. Dan perjuangan terbesar kita hari ini adalah melawan “penjajah” yang lahir, tumbuh, dan hidup di tengah bangsa kita sendiri.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan hanya ketika penjajah pergi, tetapi ketika rakyat benar-benar terbebas dari segala bentuk penindasan. Merdeka!!

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel jurnalelite.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demi Ketahanan Energi Nasional, SKK Migas dan Pertamina EP Jambi Ajak Masyarakat Turut Menjaga Objek Vital Nasional
Sinergi PHR dan Aparat Penegak Hukum Berhasil Ungkap DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi
Melayat Kerumah Duka, Kapolresta Jambi Sampaikan Duka atas Meninggalnya Warga Zona Merah
Operasi Sarang Narkoba di Pulau Pandan, Polda Jambi Amankan Tiga Orang
Peduli Kesehatan, Komunitas Trail Tambat Gelar Aksi Sosial Bagikan Masker Gratis
Nikmati Makan Siang Puas Tanpa Batas di Promo Spesial “10.10 Shocking Lunch (Maksibar)” Hanya di Luminor Hotel Jambi
Ini Sosok Kapolresta Jambi Kombes Pol Ananto yang Sukses Gelar Kapolda Fighter Match dan Dekat dengan Anak Muda
Luminor Hotel Jambi Persembahkan “Night Dream”, Pengalaman Istirahat Berkelas dengan Potongan Spesial 55 Persen
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:05 WIB

Demi Ketahanan Energi Nasional, SKK Migas dan Pertamina EP Jambi Ajak Masyarakat Turut Menjaga Objek Vital Nasional

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Sinergi PHR dan Aparat Penegak Hukum Berhasil Ungkap DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi

Senin, 19 Oktober 2026 - 00:13 WIB

Melayat Kerumah Duka, Kapolresta Jambi Sampaikan Duka atas Meninggalnya Warga Zona Merah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Operasi Sarang Narkoba di Pulau Pandan, Polda Jambi Amankan Tiga Orang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Peduli Kesehatan, Komunitas Trail Tambat Gelar Aksi Sosial Bagikan Masker Gratis

Berita Terbaru